Sabtu, 14 Oktober 2017

Kasus Pelanggaran Etika Skandal Manipulasi Laporan Keuangan PT. KAI tahun 2006

Diduga terjadi manipulasi data dalam laporan keuangan PT KAI tahun 2005, perusahaan BUMN itu dicatat meraih keutungan sebesar Rp, 6,9 Miliar. Padahal apabila diteliti dan dikaji lebih rinci, perusahaan seharusnya menderita kerugian sebesar Rp. 63 Miliar. Komisaris PT KAI Hekinus Manao yang juga sebagai Direktur Informasi dan Akuntansi Direktorat Jenderal Perbendaharaan Negara Departemen Keuangan mengatakan, laporan keuangan itu telah diaudit oleh Kantor Akuntan Publik S. Manan.  Audit terhadap laporan keuangan PT KAI untuk tahun 2003 dan tahun-tahun sebelumnya dilakukan oleh Badan Pemeriksan Keuangan (BPK), untuk tahun 2004 diaudit oleh BPK dan akuntan publik.
Hasil audit tersebut kemudian diserahkan direksi PT KAI untuk disetujui sebelum disampaikan dalam rapat umum pemegang saham, dan komisaris PT KAI yaitu Hekinus Manao menolak menyetujui laporan keuangan PT KAI tahun 2005 yang telah diaudit oleh akuntan publik ditemukan adanya kejanggalan dari laporan keuangan PT KAI tahun 2005 :
Pajak pihak ketiga sudah tiga tahun tidak pernah ditagih, tetapi dalam laporan keuangan itu dimasukkan sebagai pendapatan PT KAI selama tahun 2005.
Kewajiban PT KAI untuk membayar surat ketetapan pajak (SKP) pajak pertambahan nilai (PPN) sebesar Rp 95,2 Miliar yang diterbitkan oleh Direktorat Jenderal Pajak pada akhir tahun 2003 disajikan dalam laporan keuangan sebagai piutang atau tagihan kepada beberapa pelanggan yang seharusnya menanggung beban pajak itu. Padahal berdasarkan Standart Akuntansi, pajak pihak ketiga yang tidak pernah ditagih itu tidak bisa dimasukkan sebagai aset. Di PT KAI ada kekeliruan direksi dalam mencatat penerimaan perusahaan selama tahun 2005.
Penurunan nilai persediaan suku cadang dan perlengkapan sebesar Rp 24 Miliar yang diketahui pada saat dilakukan inventarisasi tahun 2002 diakui manajemen PT KAI sebagai kerugian secara bertahap selama lima tahun. Pada akhir tahun 2005 masih tersisa saldo penurunan nilai yang belum dibebankan sebagai kerugian sebesar Rp 6 Miliar, yang seharusnya dibebankan seluruhnya dalam tahun 2005.
Bantuan pemerintah yang belum ditentukan statusnya dengan modal total nilai komulatif sebesar Rp 674,5 Miliar dan penyertaan modal negara sebesar Rp 70 Miliar oleh manajemen PT KAI disajikan dalam neraca per 31 Desember 2005 sebagai bagian dari hutang. Akan tetapi menurut Hekinus bantuan pemerintah dan penyertaan modal harus disajikan sebagai bagian dari modal perseroan.
Manajemen PT KAI tidak melakukan pencadangan kerugian terhadap kemungkinan tidak tertagihnya kewajiban pajak yang seharusnya telah dibebankan kepada pelanggan pada saat jasa angkutannya diberikan PT KAI tahun 1998 sampai 2003.
Perbedaan pendapat terhadap laporan keuangan antara komisaris dan auditor akuntan publik terjadi karena PT KAI tidak memiliki tata kelola perusahaan yang baik. Ketiadaan tata kelola yang baik itu juga membuat komite audit (komisaris) PT KAI baru bisa dibuka akses terhadap laporan keuangan setelah diaudit akuntan publik. Akuntan publik yang telah mengaudit laporan keuangan PT KAI tahun 2005 segera diperiksa oleh Badan Peradilan Profesi Akuntan Publik. Jika terbukti bersalah, akuntan publik itu diberi sanksi teguran atau pencabutan izin praktek. (Harian KOMPAS Tanggal 5 Agustus 2006 dan 8 Agustus 2006).
Kasus PT KAI di atas menurut beberapa sumber yang saya dapat, berawal dari pembukuan yang tidak sesuai dengan standar yang telah ditetapkan. Sebagai akuntan sudah selayaknya menguasai prinsip akuntansi berterima umum sebagai salah satu penerapan etika profesi. Kesalahan karena tidak menguasai prinsip akuntansi berterima umum bisa menyebabkan masalah yang sangat menyesatkan.
Laporan Keuangan PT KAI tahun 2005 disinyalir telah dimanipulasi oleh pihak-pihak tertentu. Banyak terdapat kejanggalan dalam laporan keuangannya. Beberapa data disajikan tidak sesuai dengan standar akuntansi keuangan. Hal ini mungkin sudah biasa terjadi dan masih bisa diperbaiki. Namun, yang menjadi permasalahan adalah pihak auditor menyatakan Laporan Keuangan itu wajar. Tidak ada penyimpangan dari standar akuntansi keuangan. Hal ini lah yang patut dipertanyakan.
Dari informasi yang didapat, sejak tahun 2004 laporan PT KAI diaudit oleh Kantor Akuntan Publik. Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya yang melibatkan BPK sebagai auditor perusahaan kereta api tersebut. Hal itu menimbulkan dugaan kalau Kantor Akuntan Publik yang mengaudit Laporan Keuangan PT KAI melakukan kesalahan.
Profesi Akuntan menuntut profesionalisme, netralitas, dan kejujuran. Kepercayaan masyarakat terhadap kinerjanya tentu harus diapresiasi dengan baik oleh para akuntan. Etika profesi yang disepakati harus dijunjung tinggi. Hal itu penting karena ada keterkaitan kinerja akuntan dengan kepentingan dari berbagai pihak. Banyak pihak membutuhkan jasa akuntan. Pemerintah, kreditor, masyarakat perlu mengetahui kinerja suatu entitas guna mengetahui prospek ke depan. Yang Jelas segala bentuk penyelewengan yang dilakukan oleh akuntan harus mendapat perhatian khusus dan tindakan tegas perlu dilakukan.



Analisis Kasus:
Kasus ini juga berkaitan dengan masalah pelanggaran kode etik profesi akuntansi yang menurut saya, akuntan internal di PT. KAI belum sepenuhnya menerapkan 8 prisip etika akuntan. Kedelapan prinsip akuntan tersebut yaitu:

1.      Tanggung jawab profesi
dimana seorang akuntan harus bertanggung jawab secara professional terhadap semua kegiatan yang dilakukannya. Akuntan Internal PT. KAI kurang bertanggung jawab karena dia tidak menelusuri kekeliruan dalam pencatatan dan memperbaiki kesalahan tersebut sehingga laporan keuangan yang dilaporkan merupakan keadaan dari posisi keuangan perusahaan yang sebenarnya.
2.      Kepentingan Publik
Dalam kasus ini akuntan PT. KAI diduga tidak bekerja demi kepentingan publik karena diduga sengaja memanupulasi laporan keuangan sehingga PT. KAI yang seharusnya menderita kerugian namun karena manipulasi tersebut PT. KAI terlihat mengalami keuntungan. Hal ini tentu saja sangat berbahaya, termasuk bagi PT. KAI. Karena, apabila kerugian tersebut semakin besar namun tidak dilaporkan, maka PT. KAI bisa tidak sanggup menanggulangi kerugian tersebut.

3.      Integritas
dimana akuntan harus bekerja dengan profesionalisme yang tinggi. Dalam kasus ini akuntan PT. KAI tidak menjaga integritasnya, karena diduga telah melakukan manipulasi laporan keuangan.

4.      Objektifitas
dimana akuntan harus bertindak obyektif dan bersikap independen atau tidak memihak siapapun. Dalam kasus ini akuntan PT. KAI diduga tidak obyektif karena diduga telah memanipulasi laporan keuangan sehingga hanya menguntungkan pihak-pihak tertentu yang berada di PT. KAI.

5.      Kompetensi dan kehati-hatian  professional
akuntan dituntut harus melaksanakan jasa profesionalnya dengan penuh kehati-hatian, kompetensi, dan ketekunan, serta mempunyai kewajiban untuk mempertahankan pengetahuan dan keterampilan profesionalnya pada tingkat yang diperlukan. Dalam kasus ini, akuntan PT. KAI tidak melaksanakan kehati-hatian profesional sehingga terjadi kesalahan pencatatan yang mengakibatkan PT. KAI yang seharusnya menderita kerugian namun laporan keuangan mengalami keuntungan.
6.      Kerahasiaan
akuntan harus menghormati kerahasiaan informasi yang diperoleh selama melakukan jasa profesional dan tidak boleh memakai atau mengungkapkan informasi tersebut tanpa persetujuan, kecuali bila ada hak atau kewajiban profesional atau hukum untuk mengungkapkannya. Dalam kasusun ini akuntan sudah menerapkan prinsip kerahasiaan karena hanya melaporkan laporan yang dapat dipublikasikan saja.
7.      Perilaku professional
akuntan sebagai seorang profesional dituntut untuk berperilaku konsisten selaras dengan reputasi profesi yang baik dan menjauhi tindakan yang dapat mendiskreditkan profesinya. Dalam kasus ini akuntan PT. KAI diduga tidak berperilaku profesional yang menyebabkan kekeliruan dalam melaporkan laporan keuangan, dan hal ini dapat mendiskreditkan (mencoreng nama baik) profesinya.

8.      Standar teknis
Dalam kasus ini akuntan tidak melaksanakan prinsip standar teknis karena tidak malaporkan laporan keuangan sesuai dengan standar akuntansi keuangan. Contohnya, pada saat PT Kereta Api Indonesia telah tiga tahun tidak dapat menagih pajak pihak ketiga. Tetapi, dalam laporan keuangan itu, pajak pihak ketiga dinyatakan sebagai pendapatan. Padahal, berdasarkan standar akuntansi keuangan, ia tidak dapat dikelompokkan dalam bentuk pendapatan atau asset.

Solusi :
Seharusnya dalam perusahaan PT KAI perlu adanya profesionalisme, netralitas, dan kejujuran. Kepercayaan masyarakat terhadap kinerjanya tentu harus diapresiasi dengan baik oleh para akuntan. Etika profesi yang disepakati harus dijunjung tinggi. Hal itu penting karena ada keterkaitan kinerja akuntan dengan kepentingan dari berbagai pihak. Banyak pihak membutuhkan jasa akuntan. Pemerintah, kreditor, masyarakat perlu mengetahui kinerja suatu entitas guna mengetahui prospek ke depan. Yang Jelas segala bentuk penyelewengan yang dilakukan oleh akuntan harus mendapat perhatian khusus dan tindakan tegas perlu dilakukan. Dan dapat kita lihat bahwa pemanipulasian data ini terjadi Karena PT KAI belum sepenuhnya menerapkan 8 prinsip etika akuntan yang seharusnya wajib ada di dalam suatu perusahaan. Mengapa dapat dikatakan begitu, sebab dengan adanya penerapan prinsip-prinsip etika akuntan tersebut dapat mencegah terjadinya pemanipulasian data keuangan yang terjadi seperti di perusahaan PT KAI pasda tahun 2006.


Pendapat :

Dari kasus diatas saya berpendapat bahwa managemen seharusnya menyusun laporan keuangan secara tepat waktu, akurat dan full disclosure. Komite Audit dan Dewan Komisaris sebaiknya melakukan inisiatif untuk membangun budaya pengawasan dalam perusahaan melalui proses internalisasi, sehingga pengawasan merupakan bagian tidak terpisahkan dari setiap organ dan individu dalam organisasi. Dan seharusnya tim audit harus sering melakukan investigasi atau pemeriksaan secara berkala terhadap pemegang keuangan atau staff accounting didalam perusahaan tersebut, sehingga kejadian seperti ini dapat dicegah sebelum akhirnya merugikan perusahaan dengan nominal yang tidak sedikit seperti kasus diatas.

Referensi :

http://adhiesuseno.blogspot.co.id/2015/09/analisis-kasus-pelanggaran-etika.html
http://meginugrahawa.blogspot.co.id/2015/11/kasus-pelanggaran-http://cendimaullana.blogspot.co.id/2015/11/kasus-pelanggaran-etika-skandal.html


Jumat, 20 Januari 2017

MAKING AND RECEIVING TELEPHONE

Hi guys welcome to my blog, now I’m gonna write about “Making and Receiving Telephone Calls”. Communication nowdays is really easy, we can use telephone, text or social media. And these are some expressions we use for making and receiving telephone calls at work

Making Telephone Calls

1. What we have to do at first is introducing yourself. And these expressions we can use:
Greeting: Goodmorning, good afternoon, good evening
Tell your name and the company you work for: This is Tom from Indosat Corp.
The reason you make phone call: I’m calling about…… or could I speak to…..

2. When the person we want to speak is unavailable
 Can I leave a message?
Could you ask him/her to call me back, please?
Okay, thanks. I’ll call back later.

3. When the connection bad we can use these expressions
I think we have a bad connection. Can I call you back?
I’m sorry, we have a bad connection. Could you speak a little louder, please?
I’m sorry, could you repeat that please?

4. Ending the call
·         Thank you very much. Have a good day.
·         Thanks for your help. Have a good day.
      

       
   receiving Phone Calls

       1. Answering the phone
·         Greeting and we have to tell the name and the company then offer help:

   Goodmorning, ABC company, Tom’s speaking, how can I help you?

2. Getting the name of the caller if he/she doesn’t give it to you

 May I have your name please?
Who am I speaking with?
May I ask who’s calling?

3. Responding to a caller’s request
Sure, let me check on that.
  Let me see if she’s available.
 Sure, one moment please.

4. Asking someone to wait on the line
Can I put you on hold for a minute?
Do you mind holding while I check on that? (or “handle that for you,” “check to see if he’s available,” etc.)
5. Taking a message
 He’s/she’s not available at the moment. Would you like to leave a message?
He’s/she’s out of the office right now. Can I take a message?

6. Dealing with bad connections/wrong numbers
I’m sorry, we have a bad connection. Could you give me your number and I’ll call you right back?
 I think we have a bad connection. Could you speak a little louder, please?
I’m sorry, could you repeat that?
I’m sorry, you have the wrong number.

7. Ending the call
 Is there anything else I can help you with?…Okay, thanks for calling. Have a great day.
 Is there anything else I can do for you?…Okay, have a good day.




ASKING AND GIVING SUGGESTION EXPRESSIONS

Asking Suggestions:

- What do you recommend we do about .....?
  - What would you advices us to do?
  - Do you have any suggestions?
  - What would you do about ...?
  - What do you think I should do?
  - What do you suggest?
  - Would you like to .....

  - Shall we go ....   

Giving Suggestions:

- I would recommend that you ....
  - My advice would be to ...
  - May I suggest that we ...
  - If I were you, I would ....
  - I think you should ....
  - Maybe you should ...
  - Why do not you ...

CONTROLLING DISCUSSION

List of Steps

If you wish to experiment with a meeting of the sort I have been describing, here is a list of the basic steps involved

1. State the problem.
2. Discuss it, with possible solutions.
3. Restate the problem as each participant understands it.
4. Select one of the restatements.
5. Take the group on vacation.
a. Select one key element (a striking image, say).
b. Pick out an area in which to concentrate (weather).
c. Then ask for examples of the key element (striking images in weather).
6. Select one example (“thunderhead”) and ask for further examination.
7. End the vacation and ask for possible solutions to the original problem.
8. When a solution is reached, or when the wells have run dry, relinquish the chair to another member of the group.

DISCUSSING PROGRES

Classroom discussion is a time-honored way to learn. It is also an evidence-based way to help students retain information, pay attention, and gain real insight. However, if you’re a discussion leader, you may be nervous. Preparing for, opening, and continuing a great discussion is a skill you can learn. These steps advise you on every aspect of leading a good discussion, from keeping everyone engaged, to managing strong personalities, to wrapping up the discussion. So if you find yourself needing to lead a class in college or high school, or if you are simply interested in alternative ways of learning, practice these skills and make them your own. Soon you will be on your way to leading engaging and thought-provoking discussions where everyone learns -- including yourself!

·      Ask a question that inspires a productive conversation. The best questions are neither too open-ended nor too limited. "Yes or No" questions halt discussion, while overly broad questions (such as "What do you think about Romeo and Juliet?") questions also tend to discourage discussion. The best questions are balanced; they are open enough that there seem to be a few good answers, yet closed enough that people know how to approach them, and feel motivated to start talking.
    ·    Be prepared. As the discussion leader, you should come into the meeting with several  "big" questions. Be prepared to ask the next one when discussion dies down, when people need more food for thought. The more prepared you feel when you walk into a classroom, the more confident you’ll look. If you look confident in your ideas and your approach, students will be more likely to respect you and to cooperate.
 · ·        Provide clear guidelines for participation. Everyone knows how to have a conversation; but a thoughtful discussion is more intentional and more focused than just a chat. If you want to start the conversation off on the right foot, then let the students know exactly what your expectations are. Should students raise their hand before speaking? Or should they speak freely without raising their hands? Should they use "Mr." and "Ms." when addressing their fellow students? These details clarify expectations and hence increase student confidence. You might also coach students on how to avoid personal biases in their responses, or any terms to use or avoid, and what to do if the discussion gets heated

       ·  ·        Provide a shared frame of reference, such as a book, video, or other media. It’s important for you and the students to have something you can all talk about before you begin the discussion. This can be almost anything: the assigned reading for that day’s class, a news story or poem, a work of art, or even a natural object like a sunset. The important thing is that you and the students share a common object of study so the discussion can be concrete instead of wallowing in abstractions 
       · ·       Maintain enthusiasm for the topic. One way to make sure that the discussion goes well is toshow your enthusiasm for the subject right from the beginning. If you have engaged body language, are alert and energetic, and show how the topic is important to your life and the lives of the students, they’ll be much more likely to be engaged. If they think that you’re tired, apathetic, or just trying to get the discussion over with, then they’ll be less likely to care
      ·      ·  Define key terms. One helpful way to begin the discussion is to define any key terms that may be useful to your students throughout the discussion. For example, if you’re giving a lesson on poetry, you can discuss simile, metaphor, allusion, or any other literary devices that are central to the poem. If all of your students feel like they’re on the same page and have a strong foundation before they begin the discussion, then they’ll be much more confident about participating.
       ·         Present yourself well. In order to lead a meaningful discussion, you should strike a balance between confidence about what you know and a willingness to learn more. A discussion is an adventure -- you may not know exactly where it will go, but you can lead the way. If you are willing to be vulnerable in showing that you don't know everything, students will be more likely to be vulnerable too.




GIVING REPORT

Hi guys welcome to my blog, now I’m gonna write how to giving a report expressions. These are some expressions you can use to giving a report:

·         I'm here to report on our experiment...
·         The purpose of our research was to find....
·         We wanted to find out...
·         Why did we choose...?
·         We contacted customers who...
·         Then on our website we offered...
·         We spoke to residents again...
·         We asked them for their opinions of...
·         They commented on....
·         I think we can say that...
·         We found that...
·         And, more importantly…

Some suggestions for giving work report
Before doing assigned work:
·         Write down your assignment in your notebook
·         Determine which statistics must be collected

During the assignment:
·         Take out your notebook and collect needed data (descretely & protecting confidentiality)

After the assignment:
·         Talk with partner and determine who will say what to avoid repetition
·         Ensure that each partner has a highlight
·         Decide who will give the statistics, (i.e No. of visits,                        contacts, leaflets, sacramentals, etc.)
·        Combined, the  reports show what has been attempted and             achieved, in what spirit; the time spent; the methods used;               was not been gained and the persons who have not been
        touched.  Also, share, as appropriate: follow-up actions suggested, problems, questions, and concerns in how work was executed, as well as new things learned, new ideas, etc.
             During the meeting:
·         Have your notebook open to your notes on the assignment
·         When your name is called to report, glance at statue & silently say a short prayer
·         Speaking audibly, say, “I was assigned to [WORK] with Br/Sr [ASSIGNED PARTNER]”
·         Give your report (Speak loudly, you should feel as if you are yelling)
·         This includes giving your highlight; reports should typically be about 1 minute.
·         Indicate when you are finished giving your report (i.e. “This concludes my report”)
·         The report should be fact-based and faith-based; opinions and personal views should be reserved.  Information reported should be on spiritual issues, not secular ones.  Do not say, “he lives near the park,” or “the home was large and well-furnished.”

When others give a report
·         Do not interrupt the report (except for the President)
        –Neither the Secretary, nor the partner, should interrupt
·         Listen carefully to the report, look at the speaker; and take notes as appropriate
·         If it does not appear that a notebook was used, ask if it was
·         Ask relevant questions after the report is given






                                                                                                                          

MAKING SMALL TALK ON TRAVEL

Here some expressions you can use to make small talk during travel

Questions to ask about someone’s trip:

” (Are you) getting excited about/for your trip?”

“When are you flying out?” or “When are you heading off?”

“Are you going on a tour or are you on your own?”

“Are you all packed yet?”

“Is your trip all planned out or it spontaneous?”


How to respond to someone’s answer:  
        
“Oh wow that’s so cool”

“Check out the markets at night. They are amazing.”


“I’ve never been there but I’ve always wanted to go.”